Saturday, November 19, 2005

Edisi Spesial: 40 Tahun G30S/PKI - NU Lebih Jujur Dari Katolik

Hari Jum'at 30 September mendatang, tepat 40 tahun lalu terjadi peristiwa G30S yang mengubah sejarah Indonesia. Profesor Benedict Anderson guru besar emeritus pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat adalah salah satu pengarang apa yang disebut Cornell Paper atau Makalah Cornell, yaitu risalah pertama yang meragukan versi Soeharto terhadap peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu. Apa sebenarnya Cornell Paper itu dan penemuan-penemuan lebih lanjut apa yang didapatkan oleh Profesor Ben Anderson?

Baret merah
Ben Anderson [BA]: "Apa yang terjadi begini. Kebetulan pada waktu itu saya masih mahasiswa di Cornell terus ada dua teman lagi. Satu cowok namanya Fred Bunnell masih mahasiswa dan mbak Ruth McVey yang sudah lulus dan senior kita. Kami mengikuti apa yang terjadi di Indonesia dengan sangat cermat karena bingung. Kok ini bisa terjadi? Apa asal usulnya? Dan kebetulan pada waktu itu Cornell satu-satunya tempat di Amerika di mana hampir semua koran, majalah masuk dengan cukup cepat. Majalah dalam bahasa Indonesia, majalah dalam bahasa Jawa. Jadi kita dapat koran dari Medan, dari Balikpapan dari Solo dari Bali, dari Surabaya dan sebagainya. Ini luar biasa. Jadi kami bisa mengikuti apa yang terjadi pada bulan Oktober-November-Desember 1965, bukan bergantungan pada sumber-sumber di Jakarta yang dikuasai sepenuhnya oleh Soeharto. Tapi di lain-lain daerah.""Dan dari situ kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Jakarta, sama sekali tidak masuk akal. Karena mengikuti apa yang terjadi di Solo, Yogya dan sebagainya, kita lihat bahwa pembunuhan massal mulai di Solo, Jawa Tengah, persis pada hari itu baret merah masuk. Sebelumnya tidak ada. Terus satu bulan lagi kira-kira tanggal 17 November 1965 itu sudah mulai di Surabaya persis pada waktu RPKAD masuk. Dan sebaliknya, baru di pertengahan Desember 1965, dus hampir tiga bulan setelah G30S, pembunuhan mulai di Bali. Sekali lagi, ketika baret merah masuk."

Versi Soeharto tak masuk akal
"Jadi itu jelas sekali bahwa pembunuhan ini bukan sesuatu yang spontan, yang timbul karena kemarahan rakyat dan sebagainya. Tapi timbul dalam situasi di mana tentara masuk dan memberi sokongan kepada golongan-golongan yang anti PKI. Malah di beberapa kasus yang saya tahu betul pada waktu itu, mereka masuk di salah satu desa. Terus bilang pada salah satu orang di situ, mana itu orang komunis di sini. Orang dalam desa ingin menjaga mereka punya keluarga dan sanak saudara, bisanya bilang, ya tidak ada. Tapi tentara bilang ini daftarnya, mana orangnya? Lalu orangnya didorong ke depan. Terus tentara itu bilang sama salah satu orang di sekitarnya, kamu anti komunis atau tidak? Ya, saya anti komunis. Baik, untuk membuktikan, silahkan membunuh empat orang ini. Jadi orang seperti ini, tani biasa, antara dibunuh oleh tentara, atau membunuh temennya sendiri
atau keluarga sendiri, ya akhirnya harus cari selamat."
"Nah, cara yang begini yang sangat sadis, itu kami sudah tahu pada waktu itu. Jadi, timbul usaha untuk coba membongkar rahasia apa sebenarnya yang terjadi pada waktu itu. Kami mencek beberapa hipotesa. Seandainya ini Bung Karno di belakangnya, PKI di belakangnya, tentara di belakangnya. Dan walaupun kita tidak dapat suatu kepastian yang jelas, tapi berdasar informasi yang ada pada waktu itu, versinya Soeharto jelas tidak masuk akal."
Proyek penting tak terlaksana
"Kami dapet kesimpulan bahwa ini mulainya dengan perselisihan di dalam tentara sendiri. Itu selesai kira-kira tanggal 3 Januari atau 4 Januari 1966. Kami kerja siang malam. Bertiga. Setelah selesai, kami merasa bahwa ini suatu dokumen yang berbahaya. Bukan untuk kita
sendiri. Tapi kalau tentara di Jakarta tahu bahwa dokumen ini ada, mungkin orang-orang yang pernah ke Cornell, orang-orang yang pernah menjadi teman kita, walaupun mereka sama sekali tidak ada hubungan dengan apa yang kita tulis, toh bisa dikorbankan."
"Tapi di lain pihak kami ingin supaya orang-orang yang kami percaya, orang-orang seperti Pak Wertheim, Pak Dan Lev, bisa melihat hasil riset kami. Kami menulis pada mereka, bilang, ini kalian bisa pakai fakta-fakta yang kami sudah dapatkan, kalau kalian ingin menulis, terserah. Tapi jangan sebut dokumen ini. Pada waktu itu kami amatiran. Ternyata itu akhirnya bocor dan tentunya bukan golongan Ali Moertopo cs yang marah, tapi banyak orang Amerika di pemerintah Amerika juga marah. Karena ini seolah-olah cerita bahwa tentara berhak untuk membunuh banyak orang. Karena memang PKI yang mau bikin kup sebelumnya, mungkin tidak benar. Dan legitimasi pemerintah Soeharto yang sudah jelas menuju ke diktatoran harus direstui. Dan memang itu maksudnya pemerintah Amerika pada waktu itu."
"Yang tidak lama setelah itu saya diusir dari Indonesia. Dan dalam satu hal sebenarnya saya merasa salah sendiri. Artinya, karena itu saya sudah merasa tidak ada harapan untuk meneruskan riset itu tadi karena gak ada akses ke Indonesia. Dan pada waktu itu belum ada
orang lain yang bersedia untuk meneruskannya. So ini proyek tentang saat yang sangat penting di Indonesia, tidak sampai terlaksana. Itu ceritanya."
Kampanye Machiavellis
Radio Nederland [RN]: "Tapi menurut Profesor Anderson bahan untuk melanjutkan studi Cornell Paper itu masih banyak dan ada dan bisa dilakukan ya?"
BA: "Ya. Bahan yang utama adalah segala macem dokumen-dokumen dari Mahmilub yang ada. Entah berapa, mungkin 20 jilid. Yang walaupun banyak sekali informasi lainnya, jelas itu hasil dari siksaan, toh juga cukup banyak yang menarik. Apalagi kalau dibandingkan satu sama yang lain. Nah ini memerlukan pekerjaan yang lama dan berat. Untuk memeriksa ini semua, membandingkannya satu sama yang lain. Mencari kunci-kunci yang ada. Itu sampai sekarang belum dilakukan."
"Tetapi betapa pentingnya sumber ini bisa dijelaskan oleh suatu insiden yang terjadi waktu saya kebetulan periksa ratusan halaman dari salah satu Mahmilub. Dan di sana saya ketemu satu dokumen yang sangat penting. Yaitu visum et repertum tentang meninggalnya Ahmad Yani dan teman-temannya yang dituduh sebagai dewan jenderal."
"Pemeriksaan terhadap tubuh-tubuh jenderal-jenderal ini sangat teliti. Dikerjakan oleh dokter-dokter militer dan dokter-dokter sipil di Universitas Indonesia. Diselesaikan tanggal 3 Oktober 1965. Dan laporannya ditujukan kepada Soeharto sebagai Pangkostrad pada waktu itu. Dari laporan ini jelas sekali bahwa cerita yang dikeluarkan oleh Soeharto cs pada tanggal 5-6 Oktober 1965, di koran dan di massa media bahwa orang-orang ini disiksa oleh PKI. Kemaluan mereka dipotong-potong oleh Gerwani yang gila seks dan gila drugs. Bahwa ada segala macam horor, dicungkil matanya dan sebagainya. Itu sama sekali tidak bener."
"Itu sangat sengaja. Jadi laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi sudah ada di tangan Soeharto tiga hari sebelum kampanye horor anti PKI mulai. Jadi itu sangat sinis, sangat dingin. Anehnya, laporan ini menjadi lampiran entah keberapa pada akhir dari jilid Mahmilub ini itu. Dan jelas masuk dengan tidak sengaja oleh seorang tentara kecil-kecilan yang dengan lugunya mungkin merasa bahwa ini dokumen yang tidak penting."
"Padahal itu satu dokumen yang sangat penting dan sangat menghancurkan konsep bahwa Moertopo, Soeharto dan sebagainya itu bertindak atas dasar keyakinan. Tidak. Justru sebaliknya, itu suatu kampanye yang sangat Machiavellis, yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran."
Informasi selalu ada
"Jadi ini suatu contoh bagaimana kalau orang rajin mencari informasi itu bisa ketemu. Jadi orang-orang tua, baik dari pihak yang menang, maupun dari pihak yang kalah, juga bisa diusahakan. Orang-orang yang mengunjungi tapol-tapol dalam penjara pada waktu itu mungkin mereka bikin catatan dan sebagainya, itu belum ditelusuri."
"Saya masih ingat, sangat kebetulan pada waktu, mungkin tahun 1972, saya membeli suatu bungkusan, apa saya nggak tahu di jalan Surabaya di Jakarta. Itu memang daerah loak. Dan saya heran karena bungkusan itu, ternyata itu dokumen-dokumen intel Jawa Timur, yang setelah itu saya terjemahkan dan memang sudah diterbitkan di majalah Indonesia. Ini semacam mata-mata dari Jakarta yang putar-putar di Jawa Timur, untuk lapor tentang apa yang terjadi di Jawa Timur pada waktu itu."
"Dia cerita tentang perselisihan antara perwira-perwira tinggi di situ. Dia melihat bahwa pembersihan yang jalan sangat baik di Jombang, kok ada masalah umpamanya di Jember dan sebagainya. Banyak orang dibunuh di situ, tapi kok sayang di daerah Bojonegoro tidak
ada, dan kemungkinan sebab-sebabnya begini begini. Kan bagaimanapun pemerintah itu suatu birokrasi yang selalu tulis menulis, selalu ada laporan, selalu ada ini ini."
"Dan saya yakin ada gudang yang penuh dengan segala macam dokumen, yang orang sekarang, malah tidak tahu ada apa di situ. Memang pada waktu reformasi lagi bergejolak, salah satu harapan tersembunyi dalam hati saya adalah bahwa anak-anak muda yang pergi rame-rame akan membongkar gudang-gudang ini dari tangan tentara dan tangan
pemerintah. Seperti yang terjadi pada tahun 1965, di mana Deplu dibongkar, waktu itu banyak dokumen-dokumen dari zamannya Soebandrio, kan masuk gelanggang umum."
Demikian bagian pertama wawancara Profesor Benedict Anderson dari Cornell University.

Topik Terkait: 2
Reaksi: 1
Soal Pembunuhan Pasca G30S
NU Lebih Jujur dari Katolik
Wawancara Ranesi, September 2005
Dalam acara dialog interaktif Secangkir Kopi yang disiarkan TVRI tanggal 14 Maret tahun 2000, presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid menyatakan sejak menjabat ketua PBNU dirinya sudah meminta maaf kepada para korban pembunuhan pasca peristiwa G30S. "Saya sudah meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi terhadap orang-orang yang dikatakan sebagai komunis," kata Gus Dur waktu itu. Sejak ucapan itu tabir tabu yang meliputi PKI serta peristiwa G30S seperti terkoyak. Semua orang bisa berbicara bebas tentang peristiwa bersejarah 40 tahun silam yang mengubah perjalanan bangsa Indonesia,
termasuk korban-korbannya. Ucapan ini adalah juga rintisan menuju rujuk nasional dengan NU sebagai pelopornya, walaupun organisasi massa Islam terbesar ini masih saja terbelah soal peran mereka waktu itu. Indonesianis senior Profesor Benedict Anderson yang seperempat abad lebih dilarang masuk Indonesia gara-gara pendapatnya soal G30S,
menyambut baik upaya NU. Tapi pakar Indonesia dari Cornell University ini juga mendesak supaya organisasi-organisasi lain terbuka dan jujur dalam peran mereka pada pembunuhan massal pasca G30S. Berikut Profesor Ben Anderson kepada Radio Nederland.
Perubahan di kalangan NU
Benedict Anderson [BA]: "Yang paling menarik adalah perubahan justru di kalangan NU. Karena diketahui pada waktu tahun 1965, justru orang-orang Ansor menjadi pembantu yang sangat penting untuk tentara dalam hal menghancurkan PKI, khususnya di daerah pedalaman, di Jawa Timur, Jawa Tengah. Karena di kalangan anak muda intelektual justru
mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka membantu usaha Ibu Sulami untuk menelusuri jumlah orang kiri yang terbunuh di beberapa daerah. Dan mereka mulai bikin rekonsiliasi atau hati ke hati antara orang Gerwani dan orang-orang dari ormas NU, khusus untuk wanita."
"Ini sangat bagus, walaupun mereka harus menghadapi fakta bahwa di antara keluarga mereka sendiri ada yang menjadi algojo. Dan rupanya mereka bersiap untuk itu. Jadi mereka tidak mati-matian membela apa yang terjadi sebelumnya. Ini berarti bahwa sebagian penting dalam masyarakat Indonesia, justru fihak yang di angkatan tuanya sangat
aktif dalam masyarakat ini, berubah pikirannya. Kami belum lihat usaha yang sedemikian dari fihak Katolik, Protestan, Muhammadiyah. Tapi Insya Allah itu akan berlangsung pada tahun yang akan dateng."
"Kita harus ingat bahwa orang-orang yang sudah ambil posisi, yang sudah lama menyokong Soeharto mati-matian, seperti Kompas, Jacob Oetama dan sebagainya, walaupun mungkin dalam hati kecilnya mereka mengaku bahwa apa yang terjadi tahun 1965 adalah satu manipulasi yang jahat, toh mereka tidak akan meninggalkan pendirian mereka di depan umum. Karena mereka sudah punya andil dalam proyek yang besar. Dalam proyek Orde Baru. Sampai sekarang."
"Ini sering terjadi dalam politik. Bahwa orang-orang yang sebenarnya dalam hati kecilnya enggak yakin, tapi demi temennya, demi anu, namanya, demi ini, demi itu, demi untungnya; masih ngotot dengan pendapat yang sebenarnya mereka sudah tahu bahwa ini tidak benar."
NU lebih jujur daripada Katolik "Kita tahu bahwa sebagian penting dari dana keuangan untuk Soeharto pada masa-masa kritis yang pertama, sebagian datang dari, ini yang bagian dalam negeri, bukan bantuan dari luar negeri, tapi dari dalam negeri sebagian besar datang dari Pertamina dan sebagian besar lagi datang dari Menteri Perkebunan Agraria, tokoh Flores yang kita semua tahu, Frans Seda. Ini kan menteri pemerintahan Soekarno, yang
diangkat oleh Soekarno dan dia harus setia kepada Soekarno. Tapi justru sebaliknya. Diam-diam dia colong duit dari departemennya untuk dikasih kepada orang yang mendongkel Bung Karno."
"Yang kedua itu sudah diketahui bahwa orang-orang yang sangat penting dalam mendirikan Opsus, CSIS dan sebagainya. Dua orang yang paling penting di situ, tidak semuanya orang-orang Katolik, tetapi sebagian ada. Itulah Liem Bian Kie dan adiknya dan juga Harry Tjan Silalahi. Ini semua juga mengambil peranan yang cukup jahat dalam masalah Timtim. Mereka menjadi penasehat dan operator agennya Ali Moertopo dalam berusaha mendongkel pemerintah Timtim merdeka pada tahun 1975."
"Nah ini, sampai sekarang Kompas tidak pernah mau terus terang tentang peranan yang penting dari orang-orang Katolik ini. Semua ditutup dengan kata-kata halus. Ya, stylenya Kompas, bisa diketahui dengan istilah yang kita semua sudah kenal. Seperti, "Ya, saya dari
dulu memang anti. Saya memang dari dulu itu kritis. Saya memang dari dulu tidak setuju." Tapi ini semacam hipokrisi yang kalau mereka betul-betul kritis, betul-betul anti, ndak mungkin mereka bukan saja survive, tapi menjadi satu konglomerat yang maha besar, yang masih mencekik dunia penjualan buku."
"Jadi dalam hal ini, NU jauh lebih jujur dari Katolik. Ini tidak berarti bahwa tidak ada cukup banyak romo yang bagus, yang mengunjungi tapol dan berusaha untuk membantu mereka. Jadi, maksud saya bukan untuk mencaci maki kaum Katolik pada umumnya. Tapi harus diakui bahwa kaum Katolik pada umumnya masih menjadi satu minoritas yang tidak berani mencuci celana kolornya di pekarangan depan. Dalam hal ini sikap mereka, dibandingkan dengan sikapnya NU, tidak bisa dipuji."
Semuanya terlibat
Radio Nederland [RN]: "Kalau NU itu ada pemuda Ansor yang melakukan pembunuhan itu, membantu tentara. Apakah pelaku-pelaku itu juga ada dari kalangan Katolik, Protestan dan Mohammadiyah, menurut anda?"
BA: "Harus diakui bahwa sebagian besar pembunuhan terjadi di pedesaan. Bukan di kota. Jadi kalau waktu itu kamu jadi PKI kelas teri, kamu akan lebih aman, lebih mungkin survive, kalau di kota. Dan ini memang NU kuat di desa, sedangkan pada umumnya Muhammadiyah, paling sedikit di Jawa, lebih kuat di kota. Katolik juga begitu, Protestan juga."
"Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah yang jelas Katolik seperti Flores. Apa yang terjadi di sana? Saya belum pernah melihat laporan tentang ini. Jelas itu tidak dilakukan oleh Kompas cs."
"Kita tahu bahwa di Bali yang membunuh justru bukan orang Islam, tapi orang Hindu. Dan mungkin lebih sadis daripada yang terjadi di Jawa. Kita tahu bahwa pembunuhan yang paling komplit di mana dipastikan semua anggota komunis dibunuh, justru terjadi di Aceh,
yang pada waktu itu secara politik berafiliasi dengan Muhammadiyah."
"Jadi boleh dikatakan tidak ada partai atau golongan yang tidak ada tanggung jawabnya. Kalau bukan di lapangan atau di desa, tapi sebagai otak. Di bagian intel, cukup banyak Protestan Batak di intel-intel pada waktu itu. Atau di kalangan intelektual yang menjual diri supaya bisa dapet posisi yang bagus di orde baru awal, mengharapkan kedudukan seperti itu. So, orang-orang yang tidak kena itu sedikit sekali."
"Maka dari itu saya merasa harus angkat topi kepada NU dalam hal ini. Karena mereka udah kasih contoh yang bagus. Insya Allah yang lain-lainnya akan mawas diri dan memikirkannya. Insya Allah, tapi saya memang tidak banyak harapan dalam hal ini."

Demikian percakapan bagian kedua dengan Profesor Benedict Anderson Indonesianis senior dari Cornell University, Amerika Serikat.

© Radio Nederland Wereldomroep, all rights reserved
Wawancara Joss Wibisono, 2 Juni 2004
© Radio Nederland Wereldomroep, all rights reserved
www2.rnw.nl/rnw/id/topikhangat/arsipaktua/indonesia/ingin_lagi.html