Saturday, November 19, 2005

ITB, UI, UGM, IPB: PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR DIDUNIA!

PENGANTAR

Membaca tulisan pak Kwik Kian Gie (KKG) di Jawa Pos edisi Selasa, 16 Agt 2005 dengan judul “Pakai Tangan Mafia Berkeley” yang kemudian diperdalam lagi di Blog site di http://diskusikebudayaan3.blogspot.com/ (bagaimana dan mengapa krisis kebudayaan sedang terjadi di Indonesia); dan http://analisakebudayaan.blogspot.com/ (apa & bagaimana maha kerusakan telah terjadi di Indonesia akibat ulah generasi tua), sungguh membuat rasa malu yang sangat dalam bagi saya sebagai alumni UI.
Keterlibatan para dosen UI sebagai Mafia Berkeley yang bersekutu dengan USA dan regim Soeharto dengan menusuk Bung Karno dari belakang (C’oup detat yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis.
Walau saat ini Indonesia masih dalam krisis, para oknum akademisi UI itu terus lupa diri dengan melakukan pelacuran intelektual menjual bangsanya sebagai abdi luar negeri dan terus setia kepada regim ORBA dan bablasannya.
Saya menghimbau segenap alumni UI untuk membaca tulisan pak KKG dan tulisan yang lebih diperdalam lagi di web site diatas untuk kemudian melakukan refleksi dan kritik kepada almamater. Mari kita berkabung atas moralitas akademisi UI!
Pengantar ini dikutip sepenuhnya dari artikel di forum opini www.plasa.com.

QUO VADIS ITB, UI, UGM, IPB?

Kiranya tidak hanya UI, memang pilu, kelu, dan sendu memikirkan peran perguruan tinggi top (UI, ITB, UGM, IPB, …) di Indonesia. Negara adidaya yang jauh lebih cerdas dari kita memahami kelemahan budaya kita (Jawa, yang mayoritas) dengan lebih baik, terutama budaya balas jasa: diberi sedikit, membalas memberi banyak! Contoh berbagai budaya balas jasa:
- Para dosennya diberi bea siswa oleh USA, sebagai balas jasa: sepertiga kekayaan negara ini diberikan kepada USA dkk.! Dari gas alam di Aceh s/d Free Port di Irian; dari Sabang hingga Merauke – USA dkk. lah yang paling menikmati kekayaan Indonesia! Keterlibatan para dosen UI sebagai Mafia Berkeley yang bersekutu dengan USA dan regim Soeharto dengan menusuk Bung Karno dari belakang (C’oup detat yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis.
- Para dosennya diberi bea siswa oleh Jepang, sebagai balas jasa: industri negara ini diberikan kepada Jepang! Hampir tiga puluh tahun industri Jepang bercokol di Indonesia, namun s/d saat ini kita dibiarkan hanya sebagai bangsa tingkat perakit dan konsumen saja!
- Para dosennya diberi bea siswa oleh Jerman, sebagai balas jasa: di jaman Habibie, kapal2 rongsokan Jerman yang semestinya dijual sebagai besi kiloan, namun dibeli kita dengan harga setinggi langit! Majalah Tempo yang menginvestigasi masalah ini lalu dibredel! Ketika itu Indonesia membutuhkan SDM yang baik, namun anggaran pendidikan dihabiskan untuk hobi Habibie – pesawat terbang! Teknologi Jerman meraja lela, pendidikan merana; dan sekarang IPTN sekedar menjadi musium sebuah konspirasi! Dan Habibie sekarang dengan nikmatnya meninggalkan Indonesia yang sengsara, untuk kembali sebagai warga negara Jerman yang terhormat dan berjasa bagi negerinya (Jerman)!
- Diberi berbagai jabatan tertinggi di pemerintahan (dan jabatan rangkap sebagai dosen) oleh politisi Jakarta: dari eselon dua, eselon satu, dan menteri. Level jabatan setinggi ini sudah bersifat politis. Sebagai balas jasa “dibeli” oleh politisi di pusat/Jakarta: PTN top ini menjadi tidak kritis sama sekali, dosennya hanya sebagai alat justifikasi kebijakan politisi busuk, dan bahkan telah membelokan arah reformasi, serta mereka ini dipakai untuk mengendalikan/menundukan para mahasiswa agar PTN top tsb. tidak menjadi oposisi terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. Ingat, bila mahasiswa di salah satu dari keempat PTN ini bergolak, maka pada umumnya akan terjadi bola salju, dimana akan memicu aksi gerakan diseluruh Indonesia. Sayang sekali, para dosen yang juga merangkap sebagi pelacur intelektual dan akademisi selebritis (sengaja sering ditampilkan di TV oleh politisi Jakarta) ini telah dipakai untuk meredam bahkan menindas gerakan moralis dan idealis para mahasiswanya!
- Dan yang paling memprihatinkan kita, para dosennya diberi bea siswa oleh negara adidaya, sekarang mereka ini bayak yang menjadi professor doktor, sebagai balas jasa: nilai tukar rupiah dibiarkan terhina dan terjajah seperti saat ini, 1 dollar senilai kurang lebih sepuluh ribu rupiah! Dengan nilai tukar semacam ini, negara adidaya dapat membeli hasil sumberdaya alam kita dengan amat sangat murah sekali, kemudian mengembalikannya sebagai barang setengah jadi atau jadi (hitech) dengan harga dollar setinggi langit (dalam rupiah); hasil keuntungannya mereka belikan lagi bahan2 mentah kita sehingga untung mereka berlipat-lipat, maka merekalah sesungguhnya penikmat kekayaan alam Indonesia, bukan rakyat Indonesia (lihatlah suku Dayak yang tetap mencari kayu bakar dihutan, lihatlah suku Irian/Papua yang tetap berkoteka)! Dan kita dibiarkan menjadi negara eksportir bahan mentah sekaligus konsumen produk negara maju, bukan negara Industri. Bukankah ini strategi penjajahan ekonomi yang terselubung namun indah sekali? Para Prof. Dr. ini seolah-olah tidak mampu lagi atau tidak mau berusaha lagi (atau terburuk: justru jadi agen/konspirator negara adidaya) untuk mengembalikan kehormatan bangsa ini melalui nilai tukar mata uang yang adil dan beradab!

PRESTASI YANG MENGHERANKAN

Berikut ini contoh prestasi yang membuat bangsa tercengang, malu, dan prihatin:

- Menteri Pendidikan dan eselon satu duanya DEPDIKBUD adalah para Prof. Doktor dari PTN top, misal: Dirjen Dikti: Sumantri – ITB, Dirjen DiKdasmen: Indrajati – ITB, Rektor Universitas Terbuka: Bambang Sutjiatmo – ITB; mereka sudah dua kali masa jabatan (Mega & SBY), dan sekarang menterinya: B. Sudibyo – UGM. Namun ternyata kualitas SDM kita tetap amburadul (justru merosot), budaya KKN nya termasuk tiga besar, dan sekolah makin mahal dan ijazah palsu (MM, MBA, DR) menjamur! Dan jangan lupa Pak SBY pun ternyata butuh gelar DR dari IPB untuk jadi Presiden, bukankah ini kontradiksi moralitas?
- Menteri Keuangan, Menteri Ekonomi dan Kepala BI adalah para Prof. Doktor dari dari UI dan UGM (saat regim Soeharto). Yang curi uang 700 trilyun rupiah (BLBI) ternyata cukup lulusan Sekolah Dasar, misal: Liem Swie Liong, Nursalim, Edy Tanzil, Soeharto, Probo Sutejo, dst. Masak, Profesor kok kalah sama lulusan SD?
- Regim ORBA mendirikan BPPN: Badan Penyelamat Para penilep uang Negara. Kalkulasi para ekonom ahli: mungkin yang kembali cuman 25% saja dari 700 trilyun dana BLBI yang ditilep itu! Jadi, yang diselamatkan bukan uang rakyat, tapi justru pencurinya, sungguh genius/licik! Para konglomerat hitam ini dibantu oleh para akademisi busuk (kebanyakan dari UI dan UGM) dalam memberikan justifikasi2 “penyelamatan”, berapa ratus milyar rupiah telah dikucurkan oleh konglomerat hitam ke dana Lembaga Pengabdian Masyarakat UI dan UGM demi kesalamatan mereka!
- Berbagai kasus berat yang dialami bangsa seperti: penggelapan sejarah 1965, bisnis militer, badan intelijen, KKN, rasdiskriminasi, pelanggaran HAM berat, sistim gaji PNS yang amburadul, BBM, BUMN, dst., tak pernah mereka jadikan pokok2 permasalahan bangsa yang harus selalu menjadi topik utama di kampus-kampus dan ditingkat forum nasional! Para penguasa PTN top ini, secara tidak sadar, telah dijebloskan ke peran aktip politik praktis, sehingga saat ini oleh dikata telah terjadi multi fungsi: ya dosen, ya politisi, ya selebitis, ya bisnis. Peran aktip sebagai alat politik pejabat pusat telah mengakibatkan mandulnya PTN top tersebut!
- Di Indonesia itu lucu sekali, preman-kecu-gali diorganisir secara rapi menjadi organisasi Pemuda Pancasila, bahkan sampai punya partai politik, organisasinya rapi dari pusat Jakarta s/d pelosok desa di Manokwari Irian, sehingga kalau dibutuhkan proyek adu domba & kerusuhan didaerah dengan dalang dari Jakarta tinggal di out sourcingkan ke Pemuda Pancasila. Sebaliknya, dosen yang pandai dan dianggap bijak dan bermoral baik justru tidak punya asosiasi. Suatu serikat pekerja itu pasti dibutuhkan dan pasti berguna sekali! Seandainya ada Asosiasi Dosen Indonesia, betapa kekuatan yang maha luar biasa dahsyatnya untuk membenahi carut-marutnya Indonesia! (sejauh tidak afiliasi ke parpol, alias netral). Aneh sekali, mereka tidak sadar akan potensi dahsyat tapi dibiarkan tidur lelap ini?
- Di Indonesia itu lucu sekali, dari data statistik ditemukan bahwa lulusan terbaik SMA/SMU memilih memasuki Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik. Namun sayang, setelah jadi dokter dan insinyur mereka malas masuk ke Partai Politik, sehingga yang masuk Parpol justru para preman-kecu-gali yang dulu rangkingnya akademisnya terbawah (saat SMU/SMA), dan itupun sering kali memakai ijazah palsu! Jadi, di Indonesia telah terjadi paradoks: para preman-kecu-gali lah yang justru menjadi politisi top dan mengatur/memimpin negara serta membawahi orang pandai-bijak-cerdas. Demi melanggengkan posisi ini, maka yang pandai dan bijak (dosen) justru digaji rendah sekali agar bisa dibeli untuk dijadikan alat pikir dan justifikasi saja (staff think tank) bagi para preman-kecu-gali yang telah jadi birokrat. Dengan paradoks semacam ini, tidak heran Indonesia menjadi negara amburadul. Sukarno adalah insinyur, Mahatir adalah dokter, STOVIA (awal gerakan kemerdekaan pertama) adalah mhs. kedokteran; mereka adalah pandai-cerdas-bijak, jadi patut memimpin negara; bukan malahan preman-kecu-gali yang memimpin negara! (paradoks ini sudah menjadi olok2 umum para cendekiawan di luar negeri).

PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR

Seperti diketahui, UI, ITB, IPB, dan UGM adalah institusi perguruan tinggi negeri (PTN) tertua, terbesar dan termaju di Indonesia. Jadi, mereka adalah pencetak para PNS (peg. Negeri sipil) terbesar di Indonesia, dan alumni mereka saat ini menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan, dari pegawai menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, dan menteri, jadi boleh dikata mereka “menguasai” Indonesia! Sayang sekali, kita dan dunia telah memahami bahwa:
- Indonesia terkenal sebagai negara terkorup didunia.
- Birokrasi Indonesia adalah birokrasi keranjang sampah.
- Telah terjadi korupsi berjamaah; ini ibarat mengatakan bahwa korps PNS/BUMN itu adalah jemaah koruptor.
- Sistim kepegawaian kita adalah buruk sekali: dari segi gaji (yang seperti hutan belantara) dan dari segi karier planing yang amburadul. Hal ini menjadikan salah satu penyebab suburnya KKN!

Atas dasar berbagai alasan diatas, maka dapatlah dikatakan bahwa ITB, UI, UGM, IPB ADALAH PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR DIDUNIA dan PRODUSEN TERBESAR BIROKRAT KERANJANG SAMPAH! Reuni alumni mereka, yang pada umumnya megah-meriah, adalah bagaikan reuni jemaah koruptor, para pelaku KKN, para perusak bangsa!

PENUTUP

Penulis berharap agar tulisan ini jatuh ketangan para mahasiswa aktivis di ITB, UI, UGM dan IPB, dengan maksud agar mereka menyadari/memahami bahwa banyak dosen mereka dan alumni mereka ternyata telah menjadi oknum kelas berat (level nasional atau bahkan internasional = agen negara asing). Selain itu, PTN mereka yang kaya SDM berkualitas ternyata justru telah menjadi sumber petaka bagi Indonesia!

Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, tidak berutang, bahkan adidaya! Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA+mafia UI) menusuk bangsanya sendiri. Ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis). Mulai tahun 1998 s/d sekarang, Indonesia kembali dijadikan lapangan pertempuran antara Barat (modern, sekuler, Kristen) melawan Timur Tengah (tradisional/kolot, non sekuler, Islam), kata Samuel Hutington – ini disebut clash of civilization; tidak heran bom dan kerusuhan berbasis SARA terus menerus meledak disana sini. Indonesia yang kaya sumber alam, strategis posisi geopolitiknya, dan pasar yang besar bagi industri asing (karena jumlah penduduk > 200 juta) memang menarik untuk diperebutkan, pumpung bangsanya masih bodoh! Kebodohan bangsa Indonesia diwakili oleh prestasi PTN2 topnya yang mlempem, bodoh, dan tidak sadar kalau bangsanya sekedar dijadikan kuli atau negara boneka oleh negara asing! Sayang seribu kali sayang, ITB, UI, UGM, IPB belum mampu menjadi tumpuan untuk membangun bangsa yang berkebudayaan tinggi dan mandiri! Bayangkan, budaya antri saja, kita tidak mampu!

Empat faktor utama penyebab Indonesia tidak pernah mandiri dan terusmenerus mengalami krisis, yaitu terpaan: badai gurun Sahara yang panas-membara dari negara Timur Tengah yang ingin memporak-porandakan budaya asli dan menguras devisa negara, badai salju yang dingin-membekukan dari negara barat/modern yang ingin menjajah ekonomi/teknologi dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, badai KKN yang merampok keuangan dan membangkrutkan bangsa, dan PTN yang justru terkesan membiarkan semua badai itu terjadi! Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2005), bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka sepenuhnya!

Kita prihatin, ternyata PTN top kita, yang menjadi barometer SDM berbobot, tidak mampu membuat negara ini menjadi adil, sejahtera, aman, dan sentosa. Sebaliknya, peranan dosen dan alumni mereka, yang menguasai birokrasi negara, telah membuat masyarakat indonesia mengalami berbagai krisis dan bahkan kesengsaraan. ITB, UI, UGM, IPB belum bisa menjadi berkah dan rahmat bagi bangsa Indonesia, mereka saat ini malah boleh diibaratkan menjadi sumber kemunduran bangsa Indonesia (atau justru menjadi laknat bangsa: agen asing seperti UI)! Sayang, sungguh sayang…mari kita semua menundukan kepala & prihatin. Bagaimana pendapat anda?